Gareng
By : Imedia9.netNama lengkap dari Gareng sebenarnya adalah Nala Gareng, hanya saja masyarakat sekarang lebih akrab dengan sebutan “Gareng”.
Gareng adalah punakawan yang berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah sanepa dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu hati-hati dalam bertindak. Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang ciker atau patah. Ini adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik orang lain. Diceritakan bahwa tumit kanannya terkena semacam penyakit bubul.
Dalam suatu carangan Gareng pernah menjadi raja di Paranggumiwayang dengan gelar Pandu Pragola. Saat itu dia berhasil mengalahkan Prabu Welgeduwelbeh raja dari Borneo yang tidak lain adalah penjelmaan dari saudaranya sendiri yaitu Petruk.
Dulunya, Gareng berujud satria tampan bernama Bambang Sukodadi dari pedepokan Bluktiba. Gareng sangat sakti namun sombong, sehingga selalu menantang duel setiap satria yang ditemuinya. Suatu hari, saat baru saja menyelesaikan tapanya, ia berjumpa dengan satria lain bernama Bambang Panyukilan. Karena suatu kesalahpahaman, mereka malah berkelahi. Dari hasil perkelahian itu, tidak ada yang menang dan kalah, bahkan wajah mereka berdua rusak. Kemudian datanglah Batara Ismaya (Semar) yang kemudian melerai mereka. Karena Batara Ismaya ini adalah pamong para satria Pandawa yang berjalan di atas kebenaran, maka dalam bentuk Jangganan Samara Anta, dia (Ismaya) memberi nasihat kepada kedua satria yang baru saja berkelahi itu.
Karena kagum oleh nasihat Batara Ismaya, kedua satria itu minta mengabdi dan minta diaku anak oleh Lurah Karang Kadempel, titisan dewa (Batara Ismaya) itu. Akhirnya Jangganan Samara Anta bersedia menerima mereka, asal kedua satria itu mau menemani dia menjadi pamong para kesatria berbudi luhur (Pandawa), dan akhirnya mereka berdua setuju. Gareng kemudian diangkat menjadi anak tertua (sulung) dari Semar.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Gareng
Tag :
Karakter,
Semar
By : Imedia9.net
Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sanskerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.
Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.
Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala.
Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa.
Dalam naskah Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun diwariskan kepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenang kemudian diwariskan kepada putranya yang bernama Batara Guru. Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar.
Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar adalah cucu dari Ismaya.
Dalam naskah Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu hari terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculik dan disiksa hendak dibunuh. Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog sedangkan Punggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru.
Dalam naskah Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putra Sanghyang Rekatatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur yang bercahaya. Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih, dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga, yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningnya diberi nama Manikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun mengadakan perlombaan menelan gunung. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan namun justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar. Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit. Setelah melewati bebarpa hari seluruh bagian gunung pun berpindah ke dalam tubuh Ismaya, namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya pun bertubuh bulat. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya itu. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebagai raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun ke dunia. Masing-masing memakai nama Togog dan Semar.
Dalam pewayangan Sunda, urutan anak-anak Semar adalah Cepot, Dawala, dan Gareng. Sementara itu, dalam pewayangan Jawa Timuran, Semar hanya didampingi satu orang anak saja, bernama Bagong, yang juga memiliki seorang anak bernama Besut.
Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.
Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun
statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar.
Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa. Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan.
Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah - yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar - mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Semar
Sejarah Semar
Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.
Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala.
Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa.
Asal-Usul dan Kelahiran
Terdapat beberapa versi tentang kelahiran atau asal-usul Semar. Namun semuanya menyebut tokoh ini sebagai penjelmaan dewa.
Dalam naskah Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun diwariskan kepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenang kemudian diwariskan kepada putranya yang bernama Batara Guru. Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar.
Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar adalah cucu dari Ismaya.
Dalam naskah Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu hari terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculik dan disiksa hendak dibunuh. Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog sedangkan Punggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru.
Dalam naskah Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putra Sanghyang Rekatatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur yang bercahaya. Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih, dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga, yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningnya diberi nama Manikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun mengadakan perlombaan menelan gunung. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan namun justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar. Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit. Setelah melewati bebarpa hari seluruh bagian gunung pun berpindah ke dalam tubuh Ismaya, namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya pun bertubuh bulat. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya itu. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebagai raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun ke dunia. Masing-masing memakai nama Togog dan Semar.
Silsilah dan Keluarga
Dalam pewayangan dikisahkan, Batara Ismaya sewaktu masih di kahyangan sempat dijodohkan dengan sepupunya yang bernama Dewi Senggani. Dari perkawinan itu lahir sepuluh orang anak, yaitu:- Batara Wungkuham
- Batara Surya
- Batara Candra
- Batara Tamburu
- Batara Siwah
- Batara Kuwera
- Batara Yamadipati
- Batara Kamajaya
- Batara Mahyanti
- Batari Darmanastiti
Pasangan Panakawan / Punokawan
Dalam pewayangan Jawa Tengah, Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar. Gareng adalah putra seorang pendeta yang mengalami kutukan dan terbebas oleh Semar. Petruk adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sementara Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa.Dalam pewayangan Sunda, urutan anak-anak Semar adalah Cepot, Dawala, dan Gareng. Sementara itu, dalam pewayangan Jawa Timuran, Semar hanya didampingi satu orang anak saja, bernama Bagong, yang juga memiliki seorang anak bernama Besut.
Bentuk Fisik
Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya.Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.
Keistimewaan Semar
Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa. Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan.
Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah - yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar - mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Semar
Tag :
Karakter,
Sejarah Wayang Golek
By : Imedia9.net
Perkembangan wayang
golek berasal atau dipengaruhi oleh latar belakang budaya yang berbeda.
Walaupun demikian, wayang golek merupakan karya sastra lisan yang
berkembang di Jawa Barat dan digemari oleh masyarakatnya.
Perkembangan
wayang golek yang terus dialami sampai sekarang selalu menyesuaikan
dengan perkembangan jaman. Perkembangan wayang golek menurut Salmun
dimulai oleh perkembangan wayang kulit pada jaman Erlangga berkuasa pada
tahun 1050 M. Ketika itu hanya diceritakan seperti dongeng (Salmun,
1961 : 10-27)
Atja & Saleh Danasasmita, (1981) mengatakan bahwa hampir dapat dipastikan bahwa orang yang membawakan dongeng (juru cerita) itu adalah dalang.
Atja & Saleh Danasasmita, (1981) mengatakan bahwa hampir dapat dipastikan bahwa orang yang membawakan dongeng (juru cerita) itu adalah dalang.
“hayang
nyaho disakweh ning carita ma, geus ma: Darmajati, Sanghyang Bayu,
Jayasena, Sedamana, Pu Jayakerma, Ramayana, Adiparwa, Korawasrama,
Bimasora, Ranggalawe, Boma, Sumana, Kala Purbaka, Jarini, Tantri; sing
sawatek carita ma memen tanya. Jika ingin tahu semua cerita, seperti:
Darmajati, Sanghyang Bayu, Jayasena, Sedamana, Pu Jayakerma, Ramayana,
Adiparwa, Korawasrama, Bimasora, Ranggalawe, Boma, Sumana, Kala Purbaka,
Jarini, Tantri; ya segala macam cerita, tanyalah dalang”.
Hal
ini menunjukan bahwa masyarakat Sunda mengenal kesenian wayang sudah
cukup lama, seperti terbukti dengan disebutkannya beberapa judul cerita
di atas.
Pada
tahun 1583, Sunan Kudus membuat wayang golek, maksudnya dapat ditonton
pada siang hari (Sopandi, 1984:69). Hasil ciptaan inilah dikemudian hari
berkembang di Jawa Barat. Daerah yang pertama dimasuki adalah Cirebon,
bahasa yang digunakannya pun masih bahasa Jawa.
Tema
yang selalu ditampilkan adalah mengenai kisah-kisah Wong Agung Menak
yang mempunyai nama-nama seperti Amir, Amir Mukminin, Jayadimurti,
Jayengjurit, Jayenglaga, Jayengsatru, dll. Wayang tersebut dikenal
dengan nama Wayang Cepak.
Pada
Tahun 1808-1811 setelah ada jalan pos yang dibangun Daendels, wayang
golek mulai masuk ke Priangan (Sopandi, 1984:70). Bahasa yang dipakai
sudah Bahasa Sunda, sehingga pada waktu itu mulai banyak dalang dan
masyarakat yang menggemari wayang golek.
Setelah
Perang Dunia II di Jawa Barat ada wayang modern yang diciptakan oleh
R.U. Partasuwanda. Perkembangannya dimulai pada jaman Jepang. Ketika itu
orang sangat sulit untuk menyaksikan pertunjukan wayang golek karena
pemerintah Jepang membuat larangan agar tidak ada pesta yang melewati
pukul 24.00 sedangkan pertunjukan wayang golek memerlukan waktu yang
cukup panjang.
Banyak
masyarakat yang mengajukan permintaan pada pemerintah Jepang agar
wayang golek disiarkan melalui radio dan akhirnya jawatan radio Jepang
menerima permintaan tersebut. Dalang pertama yang menyanggupi mengisi
acara tersebut adalah R.U. Partasuwanda, tetapi waktu pertunjukannya pun
hanya 3 jam. Dalam keadaan seperti itu, R.U. Partasuwanda mencoba
membuat wayang golek yang bisa dipentaskan selama 3 jam. Dengan diilhami
oleh pertunjukan sandiwara, ia menciptakan wayang model baru yang
kemudian dikenal dengan wayang modern.
Dari
dalang generasi R.U. Partasuwanda sampai pada tahun 1980-an Wayang
golek mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama pada tahun
1980-an setelah hadirnya dalang (alm) H. Ade Kosasih Sunarya dan H. Asep Sunandar Sunarya.
Wayang
golek mulai mendapat tempat di masyarakat hal ini dikarenakan
kreatifitas mereka untuk bisa menarik massa. Eksistensi kedua dalang
tersebut sampai saat ini masih mempengaruhi perkembangan wayang golek di
Jawa Barat karena keduanya selalu beradaptasi terhadap apresiasi
masyarakat.
Tag :
Wayang Golek,
Sejarah Wayang Golek
By : Imedia9.net
1. Asal-usul
Asal mula wayang golek tidak diketahui secara jelas karena tidak ada keterangan lengkap, baik tertulis maupun lisan. Kehadiran wayang golek tidak dapat dipisahkan dari wayang kulit karena wayang golek merupakan perkembangan dari wayang kulit. Namun demikian, Salmun (1986) menyebutkan bahwa pada tahun 1583 Masehi Sunan Kudus membuat wayang dari kayu yang kemudian disebut wayang golek yang dapat dipentaskan pada siang hari. Sejalan dengan itu Ismunandar (1988) menyebutkan bahwa pada awal abad ke-16 Sunan Kudus membuat bangun 'wayang purwo' sejumlah 70 buah dengan cerita Menak yang diiringi gamelan Salendro. Pertunjukkannya dilakukan pada siang hari. Wayang ini tidak memerlukan kelir. Bentuknya menyerupai boneka yang terbuat dari kayu (bukan dari kulit sebagaimana halnya wayang kulit). Jadi, seperti golek. Oleh karena itu, disebut sebagai wayang golek.
Pada mulanya yang dilakonkan dalam wayang golek adalah ceritera panji dan wayangnya disebut wayang golek menak. Konon, wayang golek ini baru ada sejak masa Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati (1540-1650)). Di sana (di daerah Cirebon) disebut sebagai wayang golek papak atau wayang cepak karena bentuk kepalanya datar. Pada zaman Pangeran Girilaya (1650-1662) wayang cepak dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad dan sejarah tanah Jawa. Lakon-lakon yang dibawakan waktu itu berkisar pada penyebaran agama Islam. Selanjutnya, wayang golek dengan lakon Ramayana dan Mahabarata (wayang golek purwa) yang lahir pada 1840 (Somantri, 1988).
Kelahiran wayang golek diprakarsai oleh Dalem Karang Anyar (Wiranata Koesoemah III) pada masa akhir jabatannya. Waktu itu Dalem memerintahkan Ki Darman (penyungging wayang kulit asal Tegal) yang tinggal di Cibiru, Ujung Berung, untuk membuat wayang dari kayu. Bentuk wayang yang dibuatnya semula berbentuk gepeng dan berpola pada wayang kulit. Namun, pada perkembangan selanjutnya, atas anjuran Dalem, Ki Darman membuat wayang golek yang membulat tidak jauh berbeda dengan wayang golek sekarang. Di daerah Priangan sendiri dikenal pada awal abad ke-19. Perkenalan masyarakat Sunda dengan wayang golek dimungkinkan sejak dibukanya jalan raya Daendels yang menghubungkan daerah pantai dengan Priangan yang bergunung-gunung. Semula wayang golek di Priangan menggunakan bahasa Jawa. Namun, setelah orang Sunda pandai mendalang, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda.
2. Jenis-jenis Wayang Golek
Ada tiga jenis wayang golek, yaitu: wayang golek cepak, wayang golek purwa, dan wayang golek modern. Wayang golek papak (cepak) terkenal di Cirebon dengan ceritera babad dan legenda serta menggunakan bahasa Cirebon. Wayang golek purwa adalah wayang golek khusus membawakan cerita Mahabharata dan Ramayana dengan pengantar bahasa Sunda sebagai. Sedangkan, wayang golek modern seperti wayang purwa (ceritanya tentang Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam pementasannya menggunakan listrik untuk membuat trik-trik. Pembuatan trik-trik tersebut untuk menyesuaikan pertunjukan wayang golek dengan kehidupan modern. Wayang golek modern dirintis oleh R.U. Partasuanda dan dikembangkan oleh Asep Sunandar tahun 1970--1980.
3. Pembuatan
Wayang golek terbuat dari albasiah atau lame. Cara pembuatannya adalah dengan meraut dan mengukirnya, hingga menyerupai bentuk yang diinginkan. Untuk mewarnai dan menggambar mata, alis, bibir dan motif di kepala wayang, digunakan cat duko. Cat ini menjadikan wayang tampak lebih cerah. Pewarnaan wayang merupakan bagian penting karena dapat menghasilkan berbagai karakter tokoh. Adapun warna dasar yang biasa digunakan dalam wayang ada empat yaitu: merah, putih, prada, dan hitam.
4. Nilai Budaya
Wayang golek sebagai suatu kesenian tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi meliputi keseluruhan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu disosialisasikan oleh para seniman dan seniwati pedalangan yang mengemban kode etik pedalangan. Kode etik pedalangan tersebut dinamakan "Sapta Sila Kehormatan Seniman Seniwati Pedalangan Jawa Barat". Rumusan kode etik pedalangan tersebut merupakan hasil musyawarah para seniman seniwati pedalangan pada tanggal 28 Februari 1964 di Bandung. Isinya antara lain sebagai berikut: Satu: Seniman dan seniwati pedalangan adalah seniman sejati sebab itu harus menjaga nilainya. Dua: Mendidik masyarakat. Itulah sebabnya diwajibkan memberi con-toh, baik dalam bentuk ucapan maupun tingkah laku. Tiga: Juru penerang. Karena itu diwajibkan menyampaikan pesan-pesan atau membantu pemerintah serta menyebarkan segala cita-cita negara bangsanya kepada masyarakat. Empat: Sosial Indonesia. Sebab itu diwajibkan mengukuhi jiwa gotong-royong dalam segala masalah. Lima: Susilawan. Diwajibkan menjaga etika di lingkungan masyarakat. Enam: Mempunyai kepribadian sendiri, maka diwajibkan menjaga kepribadian sendiri dan bangsa. Tujuh: Setiawan. Maka diwajibkan tunduk dan taat, serta menghormati hukum Republik Indonesia, demikian pula terhadap adat-istiadat bangsa.
Asal mula wayang golek tidak diketahui secara jelas karena tidak ada keterangan lengkap, baik tertulis maupun lisan. Kehadiran wayang golek tidak dapat dipisahkan dari wayang kulit karena wayang golek merupakan perkembangan dari wayang kulit. Namun demikian, Salmun (1986) menyebutkan bahwa pada tahun 1583 Masehi Sunan Kudus membuat wayang dari kayu yang kemudian disebut wayang golek yang dapat dipentaskan pada siang hari. Sejalan dengan itu Ismunandar (1988) menyebutkan bahwa pada awal abad ke-16 Sunan Kudus membuat bangun 'wayang purwo' sejumlah 70 buah dengan cerita Menak yang diiringi gamelan Salendro. Pertunjukkannya dilakukan pada siang hari. Wayang ini tidak memerlukan kelir. Bentuknya menyerupai boneka yang terbuat dari kayu (bukan dari kulit sebagaimana halnya wayang kulit). Jadi, seperti golek. Oleh karena itu, disebut sebagai wayang golek.
Pada mulanya yang dilakonkan dalam wayang golek adalah ceritera panji dan wayangnya disebut wayang golek menak. Konon, wayang golek ini baru ada sejak masa Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati (1540-1650)). Di sana (di daerah Cirebon) disebut sebagai wayang golek papak atau wayang cepak karena bentuk kepalanya datar. Pada zaman Pangeran Girilaya (1650-1662) wayang cepak dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad dan sejarah tanah Jawa. Lakon-lakon yang dibawakan waktu itu berkisar pada penyebaran agama Islam. Selanjutnya, wayang golek dengan lakon Ramayana dan Mahabarata (wayang golek purwa) yang lahir pada 1840 (Somantri, 1988).
Kelahiran wayang golek diprakarsai oleh Dalem Karang Anyar (Wiranata Koesoemah III) pada masa akhir jabatannya. Waktu itu Dalem memerintahkan Ki Darman (penyungging wayang kulit asal Tegal) yang tinggal di Cibiru, Ujung Berung, untuk membuat wayang dari kayu. Bentuk wayang yang dibuatnya semula berbentuk gepeng dan berpola pada wayang kulit. Namun, pada perkembangan selanjutnya, atas anjuran Dalem, Ki Darman membuat wayang golek yang membulat tidak jauh berbeda dengan wayang golek sekarang. Di daerah Priangan sendiri dikenal pada awal abad ke-19. Perkenalan masyarakat Sunda dengan wayang golek dimungkinkan sejak dibukanya jalan raya Daendels yang menghubungkan daerah pantai dengan Priangan yang bergunung-gunung. Semula wayang golek di Priangan menggunakan bahasa Jawa. Namun, setelah orang Sunda pandai mendalang, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda.
2. Jenis-jenis Wayang Golek
Ada tiga jenis wayang golek, yaitu: wayang golek cepak, wayang golek purwa, dan wayang golek modern. Wayang golek papak (cepak) terkenal di Cirebon dengan ceritera babad dan legenda serta menggunakan bahasa Cirebon. Wayang golek purwa adalah wayang golek khusus membawakan cerita Mahabharata dan Ramayana dengan pengantar bahasa Sunda sebagai. Sedangkan, wayang golek modern seperti wayang purwa (ceritanya tentang Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam pementasannya menggunakan listrik untuk membuat trik-trik. Pembuatan trik-trik tersebut untuk menyesuaikan pertunjukan wayang golek dengan kehidupan modern. Wayang golek modern dirintis oleh R.U. Partasuanda dan dikembangkan oleh Asep Sunandar tahun 1970--1980.
3. Pembuatan
Wayang golek terbuat dari albasiah atau lame. Cara pembuatannya adalah dengan meraut dan mengukirnya, hingga menyerupai bentuk yang diinginkan. Untuk mewarnai dan menggambar mata, alis, bibir dan motif di kepala wayang, digunakan cat duko. Cat ini menjadikan wayang tampak lebih cerah. Pewarnaan wayang merupakan bagian penting karena dapat menghasilkan berbagai karakter tokoh. Adapun warna dasar yang biasa digunakan dalam wayang ada empat yaitu: merah, putih, prada, dan hitam.
4. Nilai Budaya
Wayang golek sebagai suatu kesenian tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi meliputi keseluruhan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu disosialisasikan oleh para seniman dan seniwati pedalangan yang mengemban kode etik pedalangan. Kode etik pedalangan tersebut dinamakan "Sapta Sila Kehormatan Seniman Seniwati Pedalangan Jawa Barat". Rumusan kode etik pedalangan tersebut merupakan hasil musyawarah para seniman seniwati pedalangan pada tanggal 28 Februari 1964 di Bandung. Isinya antara lain sebagai berikut: Satu: Seniman dan seniwati pedalangan adalah seniman sejati sebab itu harus menjaga nilainya. Dua: Mendidik masyarakat. Itulah sebabnya diwajibkan memberi con-toh, baik dalam bentuk ucapan maupun tingkah laku. Tiga: Juru penerang. Karena itu diwajibkan menyampaikan pesan-pesan atau membantu pemerintah serta menyebarkan segala cita-cita negara bangsanya kepada masyarakat. Empat: Sosial Indonesia. Sebab itu diwajibkan mengukuhi jiwa gotong-royong dalam segala masalah. Lima: Susilawan. Diwajibkan menjaga etika di lingkungan masyarakat. Enam: Mempunyai kepribadian sendiri, maka diwajibkan menjaga kepribadian sendiri dan bangsa. Tujuh: Setiawan. Maka diwajibkan tunduk dan taat, serta menghormati hukum Republik Indonesia, demikian pula terhadap adat-istiadat bangsa.
Tag :
Wayang Golek,
Wayang Golek
By : Imedia9.net
Wayang golek adalah bentuk teater rakyat yang sangat populer. Orang
sering menghubungkan kata “wayang” dengan “bayang” karena dilihat dari
pertunjukan wayang kulit yang memakai layar, dimana muncul
bayangan-bayangan. Di Jawa Barat, wayang ada yang menggunakan boneka
(dari kulit/wayang kulit atau kayu/wayang golek) dan ada yang dimainkan
oleh manusia (wayang orang). Berkenaan dengan wayang golek, ada dua
macam wayang golek, yakni wayang golek papak (cepak) dan wayang golek
purwa yang ada di daerah Sunda. Semua wayang, kecuali wayang wong,
dimainkan oleh dalang sebagai pemimpin pertunjukan yang sekaligus
menyanyikan suluk, menyuarakan antawacana, mengatur gamelan, mengatur
lagu dan lain-lain.
Wayang golek biasanya memiliki lakon-lakon, baik galur maupun carangan yang bersumber dari cerita besar Ramayana dan Mahabrata dengan mempergunakan bahasa Sunda disertai iringan gamelan Sunda (salendro), yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, seperangkat bonang, seperangkat bonang rincik, seperangkat kenong, sepasang goong (kempul dan goong) dan ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang indung dan tiga buah kulanter), gambang serta rebab.
Sejak 1920-an, pertunjukan wayang golek selalu diiringi oleh pesinden. Popularitas pesinden pada masa-masa itu sangat tinggi, sehingga mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri, terutama ketika zamannya Upit Sarimanah dan Titim Fatimah sekitar tahun 1960-an. Lakon yang biasa dipertunjukkan dalam wayang golek adalah lakon karangan. Hanya kadang-kadang saja dipertunjukkan lakon galur. Hal ini seakan menjadi ukuran kepandaian para dalang menciptakan lakon carangan yang bagus dan menarik. Beberapa dalang wayang golek yang terkenal diantaranya Tarkim, R.U. Partasuanda, Abeng Sunarya, Entah Tirayana, Apek, Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriadi dan lain-lain.
Pola pengadegan wayang golek adalah sebagai berikut : 1) Tatalu, dalang dan pesinden naik panggung, gending jejer/kawit, murwa, nyandra, suluk/kakawen, dan biantara ; 2) Babak Unjal, Paseban dan bebegalan ; 3) Nagara sejen ; 4) Patepah ; 5) Perang gagal ; 6) Panakawan/goro-goro ; 7) Perang Kembang ; 8) Perang raket ; dan 9) Tutug.
Salah satu fungsi wayang di masyarakat adalah ngaruwat (ritus inisiasi), yaitu membersihkan yang diruwat dari kecelakaan (marabahaya). Beberapa orang yang diruwat (sukerta), antara lain: Wunggal (anak tunggal); Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal); Suramba (empat orang putra); Surambi (empat orang putri); Pandawa (lima putra); Pandawi (lima putri); Talaga Tanggal Kausak (seorang putra dihapit putri); Samudra Hapit Sindang (seorang putri dihapit dua orang putra) dsb.
Wayang golek sebagai seni pertunjukan rakyat memiliki fungsi yang relevan dengan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun materialnya. Hal demikian dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat, misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain, adakalanya diiringi dengan pertunjukan wayang golek. Secara spiritual masyarakat mengadakan ruwatan guna menolak bala, baik secara komunal maupun individual dengan mempergunakan pertunjukan wayang golek.
Sebagaimana alur cerita pewayangan umumnya, dalam pertunjukan wayang golek juga biasanya memiliki lakon-lakon baik galur maupun carangan. Alur cerita dapat diambil dari cerita rakyat seperti penyebaran agama Islam oleh Walangsungsang dan Rara Santang maupun dari epik yang bersumber dari cerita Ramayana dan Mahabarata dengan menggunakan bahasa Sunda dengan iringan gamelan Sunda (salendro), yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, satu perangkat boning, satu perangkat boning rincik, satu perangkat kenong, sepasang gong (kempul dan goong), ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang Indung dan tiga buah kulanter), gambang dan rebab.
Sejak 1920-an, selama pertunjukan wayang golek diiringi oleh sinden. Popularitas sinden pada masa-masa itu sangat tinggi sehingga mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri, terutama ketika zamannya Upit Sarimanah dan Titim Patimah sekitar tahun 1960-an.
Dalam pertunjukan wayang golek, lakon yang biasa dipertunjukan adalah lakon carangan. Hanya kadang-kadang saja dipertunjukan lakon galur. Hal ini seakan menjadi ukuran kepandaian para dalang menciptakan lakon carangan yang bagus dan menarik. Beberapa dalang wayang golek yang terkenal diantaranya Tarkim, R.U. Partasuanda, Abeng Sunarya, Entah Tirayana, Apek, Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriadi dll.
Pola pengadegan wayang golek adalah sebagai berikut; 1) Tatalu, dalang dan sinden naik panggung, gending jejer/kawit, murwa, nyandra, suluk/kakawen, dan biantara; 2) Babak unjal, paseban, dan bebegalan; 3) Nagara sejen; 4) Patepah; 5) Perang gagal; 6) Panakawan/goro-goro; 7) Perang kembang; 8) Perang raket; dan 9) Tutug.
Salah satu fungsi wayang dalam masyarakat adalah ngaruat, yaitu membersihkan dari kecelakaan (marabahaya). Beberapa orang yang diruwat (sukerta), antara lain: 1) Wunggal (anak tunggal); 2) Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal dunia); 3) Suramba (empat orang putra); 4) Surambi (empat orang putri); 5) Pandawa (lima putra); 6) Pandawi (lima putri); 7) Talaga Tanggal Kausak (seorang putra dihapit putri); 8) Samudra hapit sindang (seorang putri dihapit dua orang putra), dan sebagainya.
Wayang golek saat ini lebih dominan sebagai seni pertunjukan rakyat, yang memiliki fungsi yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun material. Hal demikian dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain adakalanya diriingi dengan pertunjukan wayang golek.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_golek
Wayang golek biasanya memiliki lakon-lakon, baik galur maupun carangan yang bersumber dari cerita besar Ramayana dan Mahabrata dengan mempergunakan bahasa Sunda disertai iringan gamelan Sunda (salendro), yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, seperangkat bonang, seperangkat bonang rincik, seperangkat kenong, sepasang goong (kempul dan goong) dan ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang indung dan tiga buah kulanter), gambang serta rebab.
Sejak 1920-an, pertunjukan wayang golek selalu diiringi oleh pesinden. Popularitas pesinden pada masa-masa itu sangat tinggi, sehingga mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri, terutama ketika zamannya Upit Sarimanah dan Titim Fatimah sekitar tahun 1960-an. Lakon yang biasa dipertunjukkan dalam wayang golek adalah lakon karangan. Hanya kadang-kadang saja dipertunjukkan lakon galur. Hal ini seakan menjadi ukuran kepandaian para dalang menciptakan lakon carangan yang bagus dan menarik. Beberapa dalang wayang golek yang terkenal diantaranya Tarkim, R.U. Partasuanda, Abeng Sunarya, Entah Tirayana, Apek, Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriadi dan lain-lain.
Pola pengadegan wayang golek adalah sebagai berikut : 1) Tatalu, dalang dan pesinden naik panggung, gending jejer/kawit, murwa, nyandra, suluk/kakawen, dan biantara ; 2) Babak Unjal, Paseban dan bebegalan ; 3) Nagara sejen ; 4) Patepah ; 5) Perang gagal ; 6) Panakawan/goro-goro ; 7) Perang Kembang ; 8) Perang raket ; dan 9) Tutug.
Salah satu fungsi wayang di masyarakat adalah ngaruwat (ritus inisiasi), yaitu membersihkan yang diruwat dari kecelakaan (marabahaya). Beberapa orang yang diruwat (sukerta), antara lain: Wunggal (anak tunggal); Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal); Suramba (empat orang putra); Surambi (empat orang putri); Pandawa (lima putra); Pandawi (lima putri); Talaga Tanggal Kausak (seorang putra dihapit putri); Samudra Hapit Sindang (seorang putri dihapit dua orang putra) dsb.
Wayang golek sebagai seni pertunjukan rakyat memiliki fungsi yang relevan dengan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun materialnya. Hal demikian dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat, misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain, adakalanya diiringi dengan pertunjukan wayang golek. Secara spiritual masyarakat mengadakan ruwatan guna menolak bala, baik secara komunal maupun individual dengan mempergunakan pertunjukan wayang golek.
Sebagaimana alur cerita pewayangan umumnya, dalam pertunjukan wayang golek juga biasanya memiliki lakon-lakon baik galur maupun carangan. Alur cerita dapat diambil dari cerita rakyat seperti penyebaran agama Islam oleh Walangsungsang dan Rara Santang maupun dari epik yang bersumber dari cerita Ramayana dan Mahabarata dengan menggunakan bahasa Sunda dengan iringan gamelan Sunda (salendro), yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, satu perangkat boning, satu perangkat boning rincik, satu perangkat kenong, sepasang gong (kempul dan goong), ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang Indung dan tiga buah kulanter), gambang dan rebab.
Sejak 1920-an, selama pertunjukan wayang golek diiringi oleh sinden. Popularitas sinden pada masa-masa itu sangat tinggi sehingga mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri, terutama ketika zamannya Upit Sarimanah dan Titim Patimah sekitar tahun 1960-an.
Dalam pertunjukan wayang golek, lakon yang biasa dipertunjukan adalah lakon carangan. Hanya kadang-kadang saja dipertunjukan lakon galur. Hal ini seakan menjadi ukuran kepandaian para dalang menciptakan lakon carangan yang bagus dan menarik. Beberapa dalang wayang golek yang terkenal diantaranya Tarkim, R.U. Partasuanda, Abeng Sunarya, Entah Tirayana, Apek, Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriadi dll.
Pola pengadegan wayang golek adalah sebagai berikut; 1) Tatalu, dalang dan sinden naik panggung, gending jejer/kawit, murwa, nyandra, suluk/kakawen, dan biantara; 2) Babak unjal, paseban, dan bebegalan; 3) Nagara sejen; 4) Patepah; 5) Perang gagal; 6) Panakawan/goro-goro; 7) Perang kembang; 8) Perang raket; dan 9) Tutug.
Salah satu fungsi wayang dalam masyarakat adalah ngaruat, yaitu membersihkan dari kecelakaan (marabahaya). Beberapa orang yang diruwat (sukerta), antara lain: 1) Wunggal (anak tunggal); 2) Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal dunia); 3) Suramba (empat orang putra); 4) Surambi (empat orang putri); 5) Pandawa (lima putra); 6) Pandawi (lima putri); 7) Talaga Tanggal Kausak (seorang putra dihapit putri); 8) Samudra hapit sindang (seorang putri dihapit dua orang putra), dan sebagainya.
Wayang golek saat ini lebih dominan sebagai seni pertunjukan rakyat, yang memiliki fungsi yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun material. Hal demikian dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain adakalanya diriingi dengan pertunjukan wayang golek.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_golek
Tag :
Wayang Golek,
Balas Budi
By : Imedia9.net
Di Negeri Ajam (Pakistan), pada Zaman yang disebut zaman Kitrah.
Ketika itu manusia belum banyak jumlahnya, akan tetapi sudah banyak
binatang yang pandai.Begitu pula keadaan di Pulau Jawa. Banyak binatang
yang mahir bahasa Kawi, Jawa, Arab dan ilmu-ilmu agama. Raja yang
berkuasa di Ajam ketika itu bernama Kanjeng Nabi Sulaiman.
Terjadilah suatu waktu, Tuhan tidak menurunkan hujan dalam waktu lama. Rumput dan tumbuh-tumbuhan mati, hingga pampak gersang dimana-mana. Debu beterbangan dibawa angin. Taupan terjadi terus menerus, menumbangkan kayu-kayu besar, baik di gunung maupun di hutan. Yang bisa bertahan hanyalah kayu-kayu yang tumbuh di jurang, tak bisa dijangkau oleh binatang. Demikian pula sumber-sumber dan sungai menjadi kering. Bahkan telaga dan bengawan kekeringan, menimbulkan penderitaan bagi binatang semuanya.
Tersebutlah seekor kerbau jantan, muda dan berbadan kokoh. Lama ia tidak makan dan tidak minum, hampir empat bulan tidak bersua dengan makanan. Ia terduduk lemah di bawah pohon Sempu, mohon belas kasih Hyang Kuasa. Suatu hari tibalah harimau ke tempat itu tertarik oleh suara rintih binatang dan ditemukan seekor kerbau yang tubuhnya tertutup lalat hijau.
Harimau berkehendak menolong kerbau itu dan minta agar kerbau berjanji suka menjadi kawan harimau dan memberi pertolongan jika harimau mendapatkan musibah. Kerbau berjanji menolong harimau baik sakit maupun mati.
Demikianlah harimau menerima janji kerbau. Ia pergi mengambil daun drenges sebanyak dua panggul. Dibenamkan dalam air lalu dibawa ke tempat kerbau. Biarpun tumbuhan hijau berada di tepi jurang namun harimau mampu mengambilnya dan ia berikan sepuas kerbau sebanyak tiga kali sehari.
Ada kalanya harimau mencuri daun kacang, daun jagung atau daun ubi ke ladang penduduk, untuk mempererat persaudaraannya dengan kerbau. Si kerbau tubuhnya menjadi gemuk. Sementara itu hujanpun mulai turun. Rumput dan tumbuh-tumbuhan mulai semi dan berdaun kembali
Diceritakan bahwa si harimau telah tujuh hari lamanya tidak memperoleh binatang buruan. Baik kijang, rusa maupun ular atau katak sekalipun. Ia teringat akan jasa baik yang telah diberikan kepada kerbau. Ia pun pergi menemui kerbau dan menguraikan maksutnya, ialah minta daging tengkuknya separo. Kerbau tidak ingin memberikan dagingnya, tetepi ia sanggup membantu kawannya untuk menghadapi macan loreng. Sebenarnya kerbau tidak berani tetapi dengan rasa berat karena ingin hidup ia diantarkan oleh harimau ke tepi laut.
Kerbau terlanjur sanggup meskipun hatinya sangat takut menghadapi air. Ia dimaki-maki oleh harimau. Kerbaupun melompat ke air, namun tidak lama kembali ke darat. Mohon belas kasih harimau agar memberi kelonggaran selama empat hari kepada harimau. Harimau memaki sehabis-habisnya. Perkelahian terjadi, masing-masing mengeluarkan aji dan kepandaiannya. Sampai malam hari belum ada yang kalah.
Keduanya saling mundur. Harimau sangat bernafsu untuk menyelesaikan perkelahian untuk dapat makan tengkuk kerbau. Sayang hari malam telah tiba. Sebaliknya kerbau diganggu oleh pikiran yang bimbang. Jika daging tengkuknya diberikan ia pasti mati, karena si harimau pasti tak puas dan ingin yang lain.
Tengah malam si kerbau meninggalkan tempat, menuju ke utara tempat kediaman kijang. Kijang menyarankan agar kerbau minta bantuan Kuwuk. Kuwuk menyarankan agar kerbau menyerahkan tengkuknya dan kerbau ingin Kuwuk menyaksikan kematiannya. Kuwuk tak sampai hati, ia menyarankan agar kerbau menemui Kenthus. Kenthus terkenal pandai, baik ilmu-ilmu hukum maupun ilmu-ilmu bahasa.
Kenthus terkenal sebagai pokrul pandai. Kuwuk kemudian mengantarkan kerbau ke tempat kediaman Kenthus. Sementara itu harimau mencari-cari si kerbau. Akhirnya dari petunjuk kijang diperloleh petunjuk agar ke tempat Kuwuk. Ia diancam akan dibunuh karena telah membantu si kerbau. Kuwuk membenarkan bahwa kerbau datang ke tenpatnya, namun telah disarankan pergi ke tempat pokrul Kenthus.
Kuwuk minta kepada harimau, agar kelak ia diberi bagian hati dan jantung dari kerbau, sebab istrinya sedang mengandung. Harimau pergi ke tempat Kenthus dan menantang kerbau untuk meneruskan perkelahian. Kenthus minta agar meneruskan perkelahian. Kenthus minta agar harimau memaparkan perkara perselisihannya. Harimau pun bercerita sejak awal, ketika kerbau menderita kelaparan kemudian ditolongnya.
Kerbau membenarkan cerita harimau yang telah menolongnya, tetapi ia tidak merasa bahwa harus membayar kembali dengan daging. Harimau marah mendengar jawaban si kerbau ia ingin menyerang si kerbau. Kenthus segera melerai dan minta harimau sabar menunggu keputusan yang berwenang mengadili perkara utang piutang dari atasan. Keputusan yang ditunggu tiba dan tidak membenarkan utang daun-daunan dibayar kembali dengan daging.
Melihat harimau tak dapat diredakan kemarahannya, Kenthus pun menjadi marah. Ia mengatakan kepada harimau, bahwa tiap-tiap hari makan seekor harimau. Sisa yang kemarin masih ada. Kepalanya dibuang ke dalam sumur. Harimau melihat kedalam sumur kemudian lari menjauhkan diri. Kuwuk berusaha menemuhi harimau yang ketakutan.
Kuwuk kemudian mengantar harimau kembali ke tempat Kenthus. Ekornya diiket dengan ekor harimau. Ia sendiri berada di atas punggung harimau. Kenthus mengetahui bahwa kuwuk yang telah membujuk harimau kembali. Dengan lantang ia bertanya, mengapa kuwuk hanya menyerahkan harimau seekor, sedang utangnya semua enam puluh puluh ekor. Mendengar kata-kata Kenthus harimau segera lari lintang-pukang dan kuwuk yang berada di atas punggungnya kesakitan setengah mati. Kulitnya terkelupas, darahnya bercucuran sepanjang jalan.
Harimau mengira ditipu oleh Kuwuk. Dirinya digunakan untuk mengangsur utang. Sebab itu Kuwuk digigitnya hingga mati, dan ditinggalkan begitu saja. Harimau tidak lagi menaruh benci kepada kerbau.
Terjadilah suatu waktu, Tuhan tidak menurunkan hujan dalam waktu lama. Rumput dan tumbuh-tumbuhan mati, hingga pampak gersang dimana-mana. Debu beterbangan dibawa angin. Taupan terjadi terus menerus, menumbangkan kayu-kayu besar, baik di gunung maupun di hutan. Yang bisa bertahan hanyalah kayu-kayu yang tumbuh di jurang, tak bisa dijangkau oleh binatang. Demikian pula sumber-sumber dan sungai menjadi kering. Bahkan telaga dan bengawan kekeringan, menimbulkan penderitaan bagi binatang semuanya.
Tersebutlah seekor kerbau jantan, muda dan berbadan kokoh. Lama ia tidak makan dan tidak minum, hampir empat bulan tidak bersua dengan makanan. Ia terduduk lemah di bawah pohon Sempu, mohon belas kasih Hyang Kuasa. Suatu hari tibalah harimau ke tempat itu tertarik oleh suara rintih binatang dan ditemukan seekor kerbau yang tubuhnya tertutup lalat hijau.
Harimau berkehendak menolong kerbau itu dan minta agar kerbau berjanji suka menjadi kawan harimau dan memberi pertolongan jika harimau mendapatkan musibah. Kerbau berjanji menolong harimau baik sakit maupun mati.
Demikianlah harimau menerima janji kerbau. Ia pergi mengambil daun drenges sebanyak dua panggul. Dibenamkan dalam air lalu dibawa ke tempat kerbau. Biarpun tumbuhan hijau berada di tepi jurang namun harimau mampu mengambilnya dan ia berikan sepuas kerbau sebanyak tiga kali sehari.
Ada kalanya harimau mencuri daun kacang, daun jagung atau daun ubi ke ladang penduduk, untuk mempererat persaudaraannya dengan kerbau. Si kerbau tubuhnya menjadi gemuk. Sementara itu hujanpun mulai turun. Rumput dan tumbuh-tumbuhan mulai semi dan berdaun kembali
Diceritakan bahwa si harimau telah tujuh hari lamanya tidak memperoleh binatang buruan. Baik kijang, rusa maupun ular atau katak sekalipun. Ia teringat akan jasa baik yang telah diberikan kepada kerbau. Ia pun pergi menemui kerbau dan menguraikan maksutnya, ialah minta daging tengkuknya separo. Kerbau tidak ingin memberikan dagingnya, tetepi ia sanggup membantu kawannya untuk menghadapi macan loreng. Sebenarnya kerbau tidak berani tetapi dengan rasa berat karena ingin hidup ia diantarkan oleh harimau ke tepi laut.
Kerbau terlanjur sanggup meskipun hatinya sangat takut menghadapi air. Ia dimaki-maki oleh harimau. Kerbaupun melompat ke air, namun tidak lama kembali ke darat. Mohon belas kasih harimau agar memberi kelonggaran selama empat hari kepada harimau. Harimau memaki sehabis-habisnya. Perkelahian terjadi, masing-masing mengeluarkan aji dan kepandaiannya. Sampai malam hari belum ada yang kalah.
Keduanya saling mundur. Harimau sangat bernafsu untuk menyelesaikan perkelahian untuk dapat makan tengkuk kerbau. Sayang hari malam telah tiba. Sebaliknya kerbau diganggu oleh pikiran yang bimbang. Jika daging tengkuknya diberikan ia pasti mati, karena si harimau pasti tak puas dan ingin yang lain.
Tengah malam si kerbau meninggalkan tempat, menuju ke utara tempat kediaman kijang. Kijang menyarankan agar kerbau minta bantuan Kuwuk. Kuwuk menyarankan agar kerbau menyerahkan tengkuknya dan kerbau ingin Kuwuk menyaksikan kematiannya. Kuwuk tak sampai hati, ia menyarankan agar kerbau menemui Kenthus. Kenthus terkenal pandai, baik ilmu-ilmu hukum maupun ilmu-ilmu bahasa.
Kenthus terkenal sebagai pokrul pandai. Kuwuk kemudian mengantarkan kerbau ke tempat kediaman Kenthus. Sementara itu harimau mencari-cari si kerbau. Akhirnya dari petunjuk kijang diperloleh petunjuk agar ke tempat Kuwuk. Ia diancam akan dibunuh karena telah membantu si kerbau. Kuwuk membenarkan bahwa kerbau datang ke tenpatnya, namun telah disarankan pergi ke tempat pokrul Kenthus.
Kuwuk minta kepada harimau, agar kelak ia diberi bagian hati dan jantung dari kerbau, sebab istrinya sedang mengandung. Harimau pergi ke tempat Kenthus dan menantang kerbau untuk meneruskan perkelahian. Kenthus minta agar meneruskan perkelahian. Kenthus minta agar harimau memaparkan perkara perselisihannya. Harimau pun bercerita sejak awal, ketika kerbau menderita kelaparan kemudian ditolongnya.
Kerbau membenarkan cerita harimau yang telah menolongnya, tetapi ia tidak merasa bahwa harus membayar kembali dengan daging. Harimau marah mendengar jawaban si kerbau ia ingin menyerang si kerbau. Kenthus segera melerai dan minta harimau sabar menunggu keputusan yang berwenang mengadili perkara utang piutang dari atasan. Keputusan yang ditunggu tiba dan tidak membenarkan utang daun-daunan dibayar kembali dengan daging.
Melihat harimau tak dapat diredakan kemarahannya, Kenthus pun menjadi marah. Ia mengatakan kepada harimau, bahwa tiap-tiap hari makan seekor harimau. Sisa yang kemarin masih ada. Kepalanya dibuang ke dalam sumur. Harimau melihat kedalam sumur kemudian lari menjauhkan diri. Kuwuk berusaha menemuhi harimau yang ketakutan.
Kuwuk kemudian mengantar harimau kembali ke tempat Kenthus. Ekornya diiket dengan ekor harimau. Ia sendiri berada di atas punggung harimau. Kenthus mengetahui bahwa kuwuk yang telah membujuk harimau kembali. Dengan lantang ia bertanya, mengapa kuwuk hanya menyerahkan harimau seekor, sedang utangnya semua enam puluh puluh ekor. Mendengar kata-kata Kenthus harimau segera lari lintang-pukang dan kuwuk yang berada di atas punggungnya kesakitan setengah mati. Kulitnya terkelupas, darahnya bercucuran sepanjang jalan.
Harimau mengira ditipu oleh Kuwuk. Dirinya digunakan untuk mengangsur utang. Sebab itu Kuwuk digigitnya hingga mati, dan ditinggalkan begitu saja. Harimau tidak lagi menaruh benci kepada kerbau.
Tag :
Wayang Kancil,
Kancil Beradu Ilmu
By : Imedia9.net
Kancil teringat janji Srenggala. Sementara itu murid Srenggala di
Suracala semakin berkembang, berdatangan dari hutan-hutan sekitar.
Segala macam anjing masuk menjadi muridnya. Srenggala terkenal mahir
berbagai ilmu. Kancil merasa kawatir, kalau-kalau kekuasannya menjadi
retak. Diperintahkan kepada penghulu Wauwa beserta keempat orang ulama
untuk menghadap dan membicarakan masalah Srenggala yang mendirikan
perguruan di Suracala.
Penghulu tidak ingin memajukan saran, karena menurut janji Srenggala akan menghadap setelah tiga tahun. Kancil berpendapat sebaiknya ia datang dengan para penggawanya ke Suracala, sekaligus mengadu kepandaian dengan Srenggala. Semua setuju, tetapi sebelumnya patih akan mengukur kepandaian Srenggala bersama kera dan orang hutan. Banteng, kera dan orang hutan menemui Srenggala. Srenggala tetap tidak mau menghadap Kancil, bahkan menganggap tindakan Kancil selama ini tidak benar.
Srenggala kemudian menunjukkan tindakan –tindakan Kancil dan penggawanya yang dinilai tidak betul. Banteng merasa malu, kalah pandai melawan pengetahuan Srenggala. Ia minta agar Srenggala bersedia bertemu dengan Kancil. Bukan sebagai hamba, tetapi sebagai sama-sama guru. Pertemuan disarankan bertempat di Parangtingan. Srenggala bersedia. Sang Kancil senang hatinya mendengar laporan Banteng. Pada hari yang ditentukan ia berangkat bersama para penggawa lengkap. Setelah bertemu dengan Srenggala, Kancil langsung menyalahkan tindakan Srenggala.
Kancil memberi tahu tentang pengangkatannya sebagai Amongpraja. Untuk itu ia pun telah mengkat banyak penggawa. Srenggala dikatakan mengajar ilmu yang tidak benar. Ia memberikan contoh kepada Srenggala tentang Kyai Pengging yang merusak sarak agama. Akhirnya Kyai Pengging dibunuh oleh Raja di Demak.
Terjadilah adu kepandaian antara Kancil dan Srenggala. Srenggala memberikan soal, mengapa Kancil mengangkat pegawai dan menarik pajak. Sedang ia tidak tahu keadaan tanah yang dikuasai. Mana yang subur dan mana yang tidak. Kancil tidak membuat uang mengapa ia menarik uang. Mengapa sebagai raja harus memeras keringat rakyatnya. Menarik pajak dari rakyat, sedang Kancil bukan yang membuat bumi, air, api dan angin.
Janganlah Kancil menjadi raja kalau tidak dapat memberikan jawaban. Soal yang ke dua Kancil diminta menjawab kapan kapan ia bertemu dengan Tuhan dan memberikan beslit, sedang malaikat saja tidak terlihat. Jika Tuhan memberikan sesuatu pasti ada asal mulanya, tak dapat begitu saja. Yang ke tiga Srenggala minta penjelasan Kancil apa yang disebut ilmu sejati,. Dari mana asal binatang, dan mengapa bayi berbeda dengan setelah tua. Dari mana asal pancaindra itu, dan mengapa makluk itu hidup dan bagaimana berkurangnya umur, apakah yang sebenarnya berkurang. Yang keempat Srenggala minta agar Kancil menerangkan mengapa semuanya akan sirna. Yang ke lima setelah mati di mana tempat nyawa, di mana istana akhirat dan yang keenam mengapa matahari terbit di Timur dan tenggelam di barat, apapula sebabnya bulan berjalan ke timur, di manakah pusat bumi itu.
Dimanakah batas bumi itu, Kancil diminta untuk menguraikan keenam masalah tersebut. Kancil tak mampu menguraikan enam masalah tersebut. Ia mengakui kepandaian Srenggala, turun mendekati Srenggala dan bermaksut menyerahkan kekuasaan negara kepada Srenggala. Semua pengikutnya mengikuti Kancil menyembah kepada Srenggala.
Srenggala tidak mau menerima kekuasaan, ia bersedia membantu Kancil. Kemudian memberikan uraian masalah enam macam yang ditanyakan kepada Kancil bertempat di istana Sang Kancil. Srenggala diangkat sebagai panembahan Juruwarta.
Sang panembahan dibuatkan tempat tersendiri di sebelah barat cempuri. Begitu pula para pengikut panembahan yang terdiri dari bermacam anjing diberi pangkat. Suatu ketika Amongpraja menghadap kepada Srenggala, mohon diberi ajaran menghilangkan pekerti panca indra. Setelah diberi tahu Amongpraja mohon ditunjukkan tempat tirta nirmaya. Srenggala menunjukkan tempatnya berupa perlambang. Selanjutnya Amongpraja mohon diberi penjelasan mengenai kata udara menurut kata Arab.
Panembahan memberikan keterangan mengenai udara, gerak dan daya yang ditimbulkan menurut ilmu alam. Dengan berbagai macam contoh, seperti botol, perahu, senapan dan terjadinya gema. Udara diatas laut dan di langit terbuka, serta udara yang diperlukan manusia untuk bernafas. Srenggala kemudian menerangkan mengenai hawa nafsu pada diri manusia. Disusul dengan penjelasan tentang enam perkara yang harus diketahui oleh raja.
Diawali dengan uraian keadaan Tanah Jawa pada zaman kukila. Ketika manusia ibarat burung, tak kenal aturan dan belum beragama. Kemudian zaman manusia mengenal pakaian dari kulit kayu. Asal mula mereka mengenal dewa-dewa. Datangnya orang Hindu dan Pembuatan candi-candi. Pembuatan prasasti dan batu-batu. Datangnya bencana banjir besar sehingga memisahkan pulau-pulau, akibat bumi yang pecah. Datangnya orang Cina dan pengaruhnya dalam cara hidup masyarakat lama. Apa yang menjadi kewajiban raja bagi kemajuan rakyatnya, kemakmuran negerinya, sampai datangnya Belanda yang membawa uang ringgit.
Yang kedua raja harus berusaha tenteramnya pemeluk agama, baik Belanda, Cina, Buda dan Hindu. Tuhan tidak tampak oleh mata. Kancil mohon diberi tahu pasal ketiga ialah terjadinya semua binatang serta tambah dan kurangnya usia. Srenggala memberikan jawaban berdasarkan sifat Tuhan yang dua puluh, sedang berkurangnya usia menurut kodrat bental makmur.
Yang keempat dikatakan oleh Srenggala, bahwa semua yang ada akhirnya akan sirna. Ialah pada hari kiyamat. Kiyamat besar dan kiyamat kecil. Apa yang sebenarnya yang tersembunyi dalam mimpi itu. Orang yang memiliki ilmu sebaiknya memberikan kepada orang lain. Janganlah merasa malu jka orang lain lebih pandai. Belajarlah ilmu-ilmu yang lain.
Yang kelima Kancil mohon diberi tahu tentang tempat istana akhirat. Dijawab oleh Srenggala bahwa ia tidak dapat memberitahukan karena ia sendiri belum mengalami. Ia hanya dapat menyampaikan apa yang dikatakan oleh gurunya, ialah tentang manunggalnya gusti dan kawula. Kemudian Kancil dipeluk oleh Srenggala untuk menerima bukti apa yang diberikan kepada Kancil. Kancil seolah-olah menjadi patung, menerima segala ajaran Srenggala selama satu hari satu malam, tanpa bergerak sedikitpun. Setelah Srenggala uluk salam barulah Kancil sadar dan bangun serta duduk mengeluarkan banyak keringat. Ibarat seperti bangun tidur, ilmu diterima tanpa perlu waktu.
Kelima pasal telah dijelaskan oleh Srenggala, tinggal satu yang belum dijelaskan, ialah mengapa matahari terbit di timur dan bulan terpotong bagian atasnya. Kancil mohon penjelasannya. Srenggala memberi tahu, bahwa masalah tersebut terdapat di kitap ilmu falak, meliputi falak langit, falak laut dan falak darat. Kemudian dijelaskan terjadinya ukuran panjang dan penggunaan pengukur waktu yang disebut jam. Perjalanan matahari dan bulan serta terjadinya gerhana. Disinggung pula tentang dua belas sodiak bintang-bintang.
Munculnya Hukum Pythaguras dan ukuran derajat. Kancil diajak pergi ke sebuah pulau, paroge untuk mencoba mengukur tinggi bintang. Terjadinya ukuran berat serta ukuran satuan panjang (meter) oleh Tuan Toas, kemudian digunakan oleh orang-orang Belanda. Bagaimana cara menggunakan ukuran sekala untuk membuat peta, sikon dan jangka. Tak lupa diberikan ilmu aljabar kepada Kancil.
Srenggala minta kepada Kancil agar Musang dilepaskan dari bumi. Ia telah menjalani hukuman sesuai dengan kesalahannya. Pertemuan besar diadakan, Musang diampuni. Beberapa binatang yang sakit mendapat pengobatan, karena orang tua telah diangkat menjadi perawat. Dibuka kursus perawat bagi yang telah memiliki kepandaian baca tulis di seluruh negeri.
Penghulu tidak ingin memajukan saran, karena menurut janji Srenggala akan menghadap setelah tiga tahun. Kancil berpendapat sebaiknya ia datang dengan para penggawanya ke Suracala, sekaligus mengadu kepandaian dengan Srenggala. Semua setuju, tetapi sebelumnya patih akan mengukur kepandaian Srenggala bersama kera dan orang hutan. Banteng, kera dan orang hutan menemui Srenggala. Srenggala tetap tidak mau menghadap Kancil, bahkan menganggap tindakan Kancil selama ini tidak benar.
Srenggala kemudian menunjukkan tindakan –tindakan Kancil dan penggawanya yang dinilai tidak betul. Banteng merasa malu, kalah pandai melawan pengetahuan Srenggala. Ia minta agar Srenggala bersedia bertemu dengan Kancil. Bukan sebagai hamba, tetapi sebagai sama-sama guru. Pertemuan disarankan bertempat di Parangtingan. Srenggala bersedia. Sang Kancil senang hatinya mendengar laporan Banteng. Pada hari yang ditentukan ia berangkat bersama para penggawa lengkap. Setelah bertemu dengan Srenggala, Kancil langsung menyalahkan tindakan Srenggala.
Kancil memberi tahu tentang pengangkatannya sebagai Amongpraja. Untuk itu ia pun telah mengkat banyak penggawa. Srenggala dikatakan mengajar ilmu yang tidak benar. Ia memberikan contoh kepada Srenggala tentang Kyai Pengging yang merusak sarak agama. Akhirnya Kyai Pengging dibunuh oleh Raja di Demak.
Terjadilah adu kepandaian antara Kancil dan Srenggala. Srenggala memberikan soal, mengapa Kancil mengangkat pegawai dan menarik pajak. Sedang ia tidak tahu keadaan tanah yang dikuasai. Mana yang subur dan mana yang tidak. Kancil tidak membuat uang mengapa ia menarik uang. Mengapa sebagai raja harus memeras keringat rakyatnya. Menarik pajak dari rakyat, sedang Kancil bukan yang membuat bumi, air, api dan angin.
Janganlah Kancil menjadi raja kalau tidak dapat memberikan jawaban. Soal yang ke dua Kancil diminta menjawab kapan kapan ia bertemu dengan Tuhan dan memberikan beslit, sedang malaikat saja tidak terlihat. Jika Tuhan memberikan sesuatu pasti ada asal mulanya, tak dapat begitu saja. Yang ke tiga Srenggala minta penjelasan Kancil apa yang disebut ilmu sejati,. Dari mana asal binatang, dan mengapa bayi berbeda dengan setelah tua. Dari mana asal pancaindra itu, dan mengapa makluk itu hidup dan bagaimana berkurangnya umur, apakah yang sebenarnya berkurang. Yang keempat Srenggala minta agar Kancil menerangkan mengapa semuanya akan sirna. Yang ke lima setelah mati di mana tempat nyawa, di mana istana akhirat dan yang keenam mengapa matahari terbit di Timur dan tenggelam di barat, apapula sebabnya bulan berjalan ke timur, di manakah pusat bumi itu.
Dimanakah batas bumi itu, Kancil diminta untuk menguraikan keenam masalah tersebut. Kancil tak mampu menguraikan enam masalah tersebut. Ia mengakui kepandaian Srenggala, turun mendekati Srenggala dan bermaksut menyerahkan kekuasaan negara kepada Srenggala. Semua pengikutnya mengikuti Kancil menyembah kepada Srenggala.
Srenggala tidak mau menerima kekuasaan, ia bersedia membantu Kancil. Kemudian memberikan uraian masalah enam macam yang ditanyakan kepada Kancil bertempat di istana Sang Kancil. Srenggala diangkat sebagai panembahan Juruwarta.
Sang panembahan dibuatkan tempat tersendiri di sebelah barat cempuri. Begitu pula para pengikut panembahan yang terdiri dari bermacam anjing diberi pangkat. Suatu ketika Amongpraja menghadap kepada Srenggala, mohon diberi ajaran menghilangkan pekerti panca indra. Setelah diberi tahu Amongpraja mohon ditunjukkan tempat tirta nirmaya. Srenggala menunjukkan tempatnya berupa perlambang. Selanjutnya Amongpraja mohon diberi penjelasan mengenai kata udara menurut kata Arab.
Panembahan memberikan keterangan mengenai udara, gerak dan daya yang ditimbulkan menurut ilmu alam. Dengan berbagai macam contoh, seperti botol, perahu, senapan dan terjadinya gema. Udara diatas laut dan di langit terbuka, serta udara yang diperlukan manusia untuk bernafas. Srenggala kemudian menerangkan mengenai hawa nafsu pada diri manusia. Disusul dengan penjelasan tentang enam perkara yang harus diketahui oleh raja.
Diawali dengan uraian keadaan Tanah Jawa pada zaman kukila. Ketika manusia ibarat burung, tak kenal aturan dan belum beragama. Kemudian zaman manusia mengenal pakaian dari kulit kayu. Asal mula mereka mengenal dewa-dewa. Datangnya orang Hindu dan Pembuatan candi-candi. Pembuatan prasasti dan batu-batu. Datangnya bencana banjir besar sehingga memisahkan pulau-pulau, akibat bumi yang pecah. Datangnya orang Cina dan pengaruhnya dalam cara hidup masyarakat lama. Apa yang menjadi kewajiban raja bagi kemajuan rakyatnya, kemakmuran negerinya, sampai datangnya Belanda yang membawa uang ringgit.
Yang kedua raja harus berusaha tenteramnya pemeluk agama, baik Belanda, Cina, Buda dan Hindu. Tuhan tidak tampak oleh mata. Kancil mohon diberi tahu pasal ketiga ialah terjadinya semua binatang serta tambah dan kurangnya usia. Srenggala memberikan jawaban berdasarkan sifat Tuhan yang dua puluh, sedang berkurangnya usia menurut kodrat bental makmur.
Yang keempat dikatakan oleh Srenggala, bahwa semua yang ada akhirnya akan sirna. Ialah pada hari kiyamat. Kiyamat besar dan kiyamat kecil. Apa yang sebenarnya yang tersembunyi dalam mimpi itu. Orang yang memiliki ilmu sebaiknya memberikan kepada orang lain. Janganlah merasa malu jka orang lain lebih pandai. Belajarlah ilmu-ilmu yang lain.
Yang kelima Kancil mohon diberi tahu tentang tempat istana akhirat. Dijawab oleh Srenggala bahwa ia tidak dapat memberitahukan karena ia sendiri belum mengalami. Ia hanya dapat menyampaikan apa yang dikatakan oleh gurunya, ialah tentang manunggalnya gusti dan kawula. Kemudian Kancil dipeluk oleh Srenggala untuk menerima bukti apa yang diberikan kepada Kancil. Kancil seolah-olah menjadi patung, menerima segala ajaran Srenggala selama satu hari satu malam, tanpa bergerak sedikitpun. Setelah Srenggala uluk salam barulah Kancil sadar dan bangun serta duduk mengeluarkan banyak keringat. Ibarat seperti bangun tidur, ilmu diterima tanpa perlu waktu.
Kelima pasal telah dijelaskan oleh Srenggala, tinggal satu yang belum dijelaskan, ialah mengapa matahari terbit di timur dan bulan terpotong bagian atasnya. Kancil mohon penjelasannya. Srenggala memberi tahu, bahwa masalah tersebut terdapat di kitap ilmu falak, meliputi falak langit, falak laut dan falak darat. Kemudian dijelaskan terjadinya ukuran panjang dan penggunaan pengukur waktu yang disebut jam. Perjalanan matahari dan bulan serta terjadinya gerhana. Disinggung pula tentang dua belas sodiak bintang-bintang.
Munculnya Hukum Pythaguras dan ukuran derajat. Kancil diajak pergi ke sebuah pulau, paroge untuk mencoba mengukur tinggi bintang. Terjadinya ukuran berat serta ukuran satuan panjang (meter) oleh Tuan Toas, kemudian digunakan oleh orang-orang Belanda. Bagaimana cara menggunakan ukuran sekala untuk membuat peta, sikon dan jangka. Tak lupa diberikan ilmu aljabar kepada Kancil.
Srenggala minta kepada Kancil agar Musang dilepaskan dari bumi. Ia telah menjalani hukuman sesuai dengan kesalahannya. Pertemuan besar diadakan, Musang diampuni. Beberapa binatang yang sakit mendapat pengobatan, karena orang tua telah diangkat menjadi perawat. Dibuka kursus perawat bagi yang telah memiliki kepandaian baca tulis di seluruh negeri.
Tag :
Wayang Kancil,



